• Senin, 5 Desember 2022

Sastra Cerpen: Roda Nasib Nyai

- Selasa, 30 Agustus 2022 | 18:11 WIB
puisi (cromaconceptovisual/pixabay)
puisi (cromaconceptovisual/pixabay)

Roda Nasib Nyai
Oleh: Fikri Kamili


“Bubar! Bubar! Semuanya BUBAAARR!! Angkut barang-barangnya!!

Puluhan petugas berpakaian cokelat seragam bertopi datang membawa pentungan, berteriak-teriak marah. Petugas berkumis tebal dengan perut buncit yang merupakan kepala dari para petugas ini mengomando untuk mengangkut barang-barang pedagang ke mobil hitam besar milik petugas. Semua mata panik menoleh. Para pengunjung pasar bergegas meninggalkan acara tawar-menawar, padahal hampir deal, membuat kecewa pedagang.

“Makanya jangan bandel dibilanginnya!. Udah tau semua kan aturannya. Ini masa PPKM!”. Teriak salah satu petugas.

Baca Juga: Sastra Puisi: Sekeping Kenangan

“Kami tau sekarang PPKM, tapi kalo gak dagang mau makan apa keluarga saya ! Ngertiin dong !”. Seorang pedagang tak kalah ngotot tidak terima.

Teriak serapah memenuhi langit pasar. Para pedagang menolak keras kebijakan membubarkan pasar apalagi menyita dagangan mereka.

“Pak, kami sudah pakai masker, kami sudah taati protokol kesehatan pak!!. Kami berjualan halal, bukan penjual narkoba!!” Teriak salah seorang berperawakan besar, salah satu pedagang yang sudah belasan tahun berjualan di pasar itu.

Para petugas acuh mendengar teriakan tidak terima pedagang. Tetap memaksa, bahkan salah seorang pemuda dipukul beberapa kali dengan pentungan, karena dianggap memprovokasi para pedagang yang lain untuk melawan. Ia berdiri diatas meja dagangannya berteriak menolak aturan PPKM yang dianggapnya telah berlaku tak adil.

Halaman:

Editor: Sajidin Kandoli

Sumber: Fikri Kamili

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X